Sabtu, 05 Juni 2010

Berkunjung ke Bejijong, Trowulan, Mojokerto Temukan Indahnya Kebersamaan

Sleeping Budha-MahaViharaMajapahitTrowulan by Bambang Setyono 15-3-2009 11:20AM
Ketika ada waktu luang sedikit saja, mengapa merasa sulit pilih tempat pelipur lara. Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur (East Java), Indonesia adalah pilihan yang unik. Banyak wisatawan dalam negeri (domestic tourists) maupun wisatawan manca negara (foreign tourist) yang sudah mengenal dan mengunjungi desa ini untuk menikmati suasana kehidupan masyarakat kampung atau wong ndeso yang unik dan menarik. Kehidupan masyarakat yang damai diliputi rasa persaudaraan yang kental akan terasa saat pertama menginjakkan kaki di desa ini.


Betapa tidak, di sini ada Masjid Al Istiqomah dan Masjid Baitul Rahman, ada surau/langgar/mushola di tiap Rukun Tetangga (RT), di sini pula berdiri megah Maha Vihara Majapahit tempat peribadatan saudara-saudara kita yang beragama Budha, ini menggambarkan terjalinnya kerukunan antar umat beragama.

Dalam lokasi vihara terbaring ikon patung Sleeping Budha atau Budha Tidur yang cukup besar berwarna keemasan, unik dan indah yang dapat dikunjungi masyarakat umum.

Di desa ini terdapat bangunan kuna Candi Brahu, Candi Gentong, petilasan Siti Hinggil tempat persemayaman terakhir Prabu Brawijaya Raja Majapahit yang banyak dikunjungi baik siang maupun malam dan terdapat pula petilasan Sumur Windu yang menurut legenda adalah petilasan yang dibangun para Leluhur Desa Bejijong yang dahulu kala disebut Alasantan.
Bejijong adalah sebuah wilayah yang sudah lama berada dikawasan Trowulan atau sebuah desa yang sejak jaman kuna sudah dikenal, hal ini didasarkan atas Prasasti Alasantan yang terbuat dari tembaga atau perunggu yang sekarang disimpan di Museum Trowulan. Prasasti ini ditemukan terpendam di dalam tanah yang tidak jauh dari bangunan lawas Candi Brahu yang merupakan bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit terbesar dan tertinggi ukurannya.

Para pengunjung bisa menikmati panorama Desa Bejijong sekaligus bisa merasakan uniknya bangunan Candi Brahu yang berdiri megah ditengah lingkungan persawahan hijau, merasakan semilir angin dan membayangkan betapa nenek moyang kita telah mengalami kemajuan di bidang teknologi bangunan meskipun dengan teknologi yang sederhana namun menunjukkan daya imajinasi yang luar biasa. Bangunan candi ini menggambarkan kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan emosional pemrakarsa dan perancangnya.
Menurut ceritera orang-orang tua, bangunan ini dahulu tidak tampak karena terpendam dalam tanah berupa bukit berbentuk kerucut yang ditumbuhi pepohonan. Bukit ini biasa dijadikan tempat anak-anak dan remaja bermain plorotan atau meluncur dari puncaknya dengan media pelepah pinang.
Suatu saat seorang ahli peninggalan purbakala dari Belanda meneliti lokasi ini dan menunjukkan di dalam bukit ini ada bangunan candi, setelah dipastikan keberadaannya berdasarkan informasi-informasi sejarah kemudian digali sedikit demi sedikit, maka tampaklah bangunan yang indah.

Candi Gentong, terletak di sebelah timur Candi Brahu. Bangunan ini sedang dipugar karena mengalami kerusakan yang parah dimungkinan disebabkan oleh terjadinya bencana alam gempa bumi. Agar tidak penasaran maka ada baiknya kalau dikunjungi pula untuk memperluas pengetahuan sejarah.

Perlu diketahui, pada tiap tahun ada agenda kegiatan budaya masyarakat Bejijong yaitu Peringatan Ruwah Desa Bejijong. Peringatan yang dilaksanakan pada bulan Sya'ban menurut kalender Arab atau bulan Ruwah menurut kalender Jawa mulai pagi, siang sampai malam hari. Kegiatan itu merupakan perwujudan rasa syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan berkat dan rahmatNya serta kenikmatan yang tidak terhingga, diantaranya adalah nikmat hidup, nikmat iman, nikmat sehat, nikmat mempunyai Leluhur yang telah berjuang dan berjasa babat desa (membangun desa) sehingga masyarakat merasakan perlu mengadakan doa secara bersama-sama untuk arwah para leluhur yang disebut Ruwah Desa. Ruwah bisa diartikan arwah atau para ruh, juga diartikan weruhana sira (ngaweruhi) dene para leluhur sing wis bali ing jaman kelanggengan kuwi kang kagungan kersa mbabat desa iki(ketahuilah engkau bahwa para Leluhur yang telah kembali ke jaman keabadian atau dipanggil keharibaan Allah Yang Maha Kuasa itulah yang berjasa merintis dan membangun desa ini).

Sebelum dilakukan ritual doa untuk para leluhur, dilakukan kegiataan yang eksotis dan unik yaitu pawai (arak-arakan/semacam karnaval/carnival) yang diikuti penduduk desa Bejijong baik tua, muda, remaja maupun anak-anak. Mereka tampil dalam barisan kelompok-kelompok dengan berbusana adat Jawa, berbusana ala desa, ala petani atau modern untuk menampilkan aneka bentuk produk seni/budaya, tarian, maupun gerakan dramatik sebagai simbol-simbol rasa syukur dan kegembiraan atas berkat dan rahmat serta perlindungan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga mendapat keberhasilan dalam bidang pertanian, usaha-usaha perekonomian, dan keberhasilan di bidang apapun.

Pada siang hari setelah ibadah sholat Dhuhur kegiatan dilanjutkan dengan mengadakan pertunjukan seni tradisional Tarian Magis Jaran Kepang atau Tari Kuda Lumping atau tari prajurit berkuda; Jepaplok atau Tari Ular Naga; Gendruwon atau Tari Gendruwo atau tarian yang menampilkan topeng unik untuk menggambarkan bentuk makhluk halus; Bantengan atau tarian yang menampilkan topeng berbentuk hewan Banteng; Macanan yaitu tarian yang menampilkan topeng berbentuk hewan Macan atau Harimau.
Tarian-tarian ini dulu diiringi tabuhan atau musik yang ditabuh berupa jidor, kendang, ketipung (drum yang dibuat dari kayu dan kulit sapi). Seiring dengan kemajuan perkembangan kehidupan sosial masyarakat yang selalu membutuhkan variasi dengan alasan agar tidak membosankan dan lebih dinamis, maka saat ini pertunjukan seni tradisional ini terpaksa dilakukan modifikasi dengan harapan dapat memenuhi selera masyarakat penikmat seni dan ada yang nanggap yaitu orang yang mendatangkan dan mensponsori grup kesenian untuk tampil melakukan kegiatan kesenian.

Modifikasi yang dilakukan adalah menambah perangkat gamelan Jawa atau Karawitan dan sekaligus sindhen yaitu penyanyi atau pembawa tembang/lagu dalam karawitan. Adapun sajian tembang dituntut untuk bisa mendendangkan lagu campur sari atau tembang-tembang Jawa populer.
Masih dalam rangkaian kegaiatan Ruwah Desa, pada malam harinya diselenggarakan pertunjukan Ringgit Wacucal atau Wayang Kulit semalam suntuk.

Rasanya kurang lengkap kegiatan traveling tanpa buah tangan, tidak perlu repot, di desa Bejijjong terdapat ratusan pengrajin produk benda seni dari bahan kuningan (brass), perunggu (bronze), perak (silver), emas (gold), terakota (lempung,tanah liat) dan ada juga pengrajin manik-manik yang indah.
Aneka ragam bentuk dan model yang ditawarkan baik model klasik, kontemporer, model Asia(oriental) ataupun modern diantaranya adalah replika patung-patung peninggalan sejarah Majapahit atau kerajaan lawas lainnya, home apliance berupa asbak, piala, gantungan kunci, kap lampu, drum, hiasan pintu/almari/mebel, replika hewan/binatang primitive ataupun natural dan masih banyak bentuk lainnya. Atau bisa juga pesan sesuai design yang dikehendaki oleh peminat produk seni itu sendiri.
Citarasa seni yang tinggi dan eksotis ini tidak dapat ditemukan diproduksi di tempat lain karena kompetensi dan keahlian pengrajin di desa ini berlangsung turun temurun.

Boleh juga menikmati indahnya malam hari yang sunyi, mengunjungi petilasan Siti Hinggil di malam hari akan menggugah inspirasi dalam keheningan suasana dibarengi semilir angin malam di bawah rimbunnya dedaunan pohon kecacil besar dan tua umurnya. Menikmati kopi hangat dan godoh telo atau godoh kaspe (ketela rambat dan ketela pohon rebus atau goreng) tentu menambah khidmatnya perenungan tentang hidup dan kehidupan.

Siapa lagi yang mencintai tanah air kita Indonesia kalau bukan kita sendiri. Orang asing dari luar negeri sangat banyak yang menyatakan keindahan dan kecantikan bumi pertiwi Indonesia tetapi tidak sedikit diantara kita yang lupa akan hadiah dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang sangat luar biasa ini. Jangan kita biarkan hati kita kering dari rasa cinta kepada tanah air Indonesia.
Cinta Tanah Air Indonesia yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan (mengutip dari lambang Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia Yang Dijiwai Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan) bisa diimplementasikan dalam berbagai cara antara lain saling menghargai dan hormat menghormati sesama manusia tanpa memandang dari mana berasal baik suku bangsa, agama, status, paham, politik bahkan usia ataupun jenis kelamin dengan tidak meninggalkan keimanan kepada Allah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dan senantiasa menegakkan sifat-sifat kemanusiaan yang luhur. Kehadiran manusia hendaknya menjadi rahmat bagi seluruh alam, terjalinnya untaian kasih sayang dan dapat menembus batas perbedaan berbagi kebahagiaan (menembus batas perbedaan berbagi kebahagiaan mengutip dari tema Reuni Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Jawa Timur Tahun 2010).

Bejijong,Trowulan, Mojokerto,Jawa Timur, Indonesia, Juni 2010


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar